Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!

E-Commerce Berkembang Pesat, Bagaimana Retail Dapat Bertahan?

by | Mar 17, 2021 | Marketplace

Pada September 2020, Bank Indonesia mencatat peningkatan transaksi e-commerce sebesar 79.38% dibandingkan tahun sebelumnya (YoY). Tentu ini bukanlah hal yang mengejutkan. Pandemi COVID-19 yang memaksa sebagian besar masyarakat untuk melakukan kegiatan dari rumah menjadi salah satu faktor paling signifikan dalam trend ini. Hal ini membuat retail traidisional mendapat perhatian khusus. Bahkan sebelum pandemi, di Amerika Serikat sendiri ada sebanyak 7.000 retail yang tutup pada tahun 2017. Sedangkan, report dari McKinsey menuliskan bahwa department store dan apparel specialized retailer merupakan dua sektor yang paling parah terdampak oleh pandemi. Meskipun secara perlahan kembali pulih, namun transaksi belum mencapai 100% seperti sebelum adanya virus corona. Pastinya beberapa pertanyaan muncul saat ini. Apakah traditional retail akan sanggup bertahan di tengah pandemi dan dengan perubahan consumer behavior yang berkepanjangan? Lalu apa langkah yang bisa dilakukan untuk bertransformasi?

Untuk itu, berikut adalah 3 ide transformasi retail yang bisa digunakan. Yuk cari tahu.

 

1. Experiential Retail

Berbeda dengan retailer pada umumnya, menurut Cate Trotter, prioritas utama experiential retail adalah untuk mendapatkan customer engagement, bukan sales. Experiential stores menawarkan lebih dari sekedar produk, namun pengalaman interaktif selama berada di dalam store. Hal ini akan membuat customer betah berlama-lama di dalam toko.

Berbeda dengan toko furniture lainnya, IKEA memberikan pengalaman berbelanja dimana customer dapat duduk santai di cafetaria yang ditempatkan ditengah-tengah perjalanan mereka browsing. Design dan layout store yang menarik dan instagrammable pun bukan dilakukan tanpa sebab. Faktanya, user-generated content melalui foto-foto yang di upload oleh customer di media sosial adalah strategi marketing yang efektif dalam memangkas marketing cost dan meningkatkan customer engagement dengan brand.

Selain IKEA, contoh experiential retail lainnya dilakukan oleh Nike melalui SoHo flagship store nya di New York, dimana didalamnya terdapat event space serta lapangan basket. Hal ini tentunya meningkatkan frekuensi kunjungan customer ke store diluar kebiasaan dan tujuan belanja mereka. Perlu diketahui, inti perbedaan experiential retail dengan traditional retail adalah pada customer experience yang tidak didapatkan customer jika mereka berbelanja online. Maka untuk retail dapat terus bertahan, perlu dilakukan inovasi secara terus-menerus dan tidak diam di zona nyaman.

Baca Juga: Dampak Perkembangan E-commerce terhadap Perekonomian dan Lapangan Pekerjaan

 

2. Transformasi Digital

Hal lainnya yang perlu kita perhatikan dalam pengembangan retail adalah consumer behavior. Ini sangat penting karena customer sendiri lah yang akan menentukan kemana bisnis akan berjalan kedepannya. Dengan semakin terbiasa melakukan kegiatan dari rumah, apakah mungkin cara berbelanja customer tidak akan sama seperti dulu lagi? Tentu kita tidak bisa tahu jawabannya dengan pasti. Tapi apapun kejadiannya, para retailer harus siap. Hal ini menjadikan transformasi digital bukan lagi sebuah opsi, namun keharusan jika ingin survive di pasar.

Perlu diketahui, transformasi digital bukan berhenti kita kita dapat berjualan melalui aplikasi, website, atau online marketplace platform lainnya. Namun, memastikan terjadinya customer engagement adalah faktor penting yang harus diperhatikan. Tentu hal ini harus disesuaikan dengan jenis usaha dan target market dari produk anda sendiri. Apakah customer anda lebih aktif dalam e-mail? Atau social media lainnya seperti Instagram? Cobalah gunakan media tersebut untuk selalu terkoneksi dan berinteraksi dengan existing customer serta berusaha untuk memingkatkan customer base.

 

3. Memiliki Manajemen Supply Chain yang Fleksibel

Perlu disadari bahwa pandemi ini mengingaktan kita para pelaku usaha untuk dapat beradaptasi dan mengambil keputusan dengan cepat. Hal ini pun harus diterapkan dalam supply chain management sebuah perusahaan. Ketika realita penjualan di lapangan tidak sesuai dengan proyeksi, kita harus cepat lakukan penyesuaian dan mitra-mitra bisnis seperti supplier pun perlu siap melakukan adjustment. Dalam kondisi krisis, memiliki stock inventory yang asset tidak lancar yang banyak tentu bukan hal yang kita harapkan. Dengan memiliki mitra rantai pasokan yang dapat beradaptasi dengan cepat, maka perusahaan kita akan lebih fleksibel dan dapat melakukan penyesuaian dengan cepat ketika penjualan di lapangan tidak sesuai dengan plan.

 

Nah, semoga informasi diatas berguna bagi anda yang terus mau upgrade diri dengan ilmu dan skill baru ya. Jika anda tertarik untuk upgrade income dengan melakukan impor dan ekspor, boleh cek page AsiaCommerce disini. Kami adalah perusahaan yang bertujuan untuk membantu UMKM Indonesia dalam melakukan sourcing, import-export, distribusi dan fullfilment barang dan jasa. Team kami akan selalu siap membantumu untuk mengembangkan usaha!

 

 

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca juga: E-Commerce Platform Berkembang Pesat, Bagaimana Retail Dapat Bertahan? […]