Penulis: Tim Riset Sourcing AsiaCommerce
Peran: Spesialis Product Sourcing & Pengadaan Impor, AsiaCommerce
Tanggal Publish: 7 September 2026
ASIACOMMERCE - Import makanan China semakin menarik ketika konsumen Indonesia terbuka terhadap rasa baru, produk praktis, dan tren kuliner viral.
Selain itu, perkembangan live commerce membuat makanan unik dari luar negeri lebih cepat dikenal calon pembeli.
China juga semakin dominan dalam perdagangan nonmigas Indonesia sepanjang 2026.
Data Kementerian Perdagangan mencatat impor nonmigas dari China mencapai US$58,29 miliar selama Januari–Juli 2026.
Nilai tersebut meningkat 22,45 persen dan mewakili 42,38 persen dari seluruh impor nonmigas Indonesia.
Namun demikian, makanan merupakan kategori dengan karakter pengadaan yang berbeda dibandingkan barang konsumsi biasa.
Keamanan pangan, komposisi, label, dokumen, izin edar, halal, penyimpanan, dan masa simpan dapat menentukan kelayakan sebuah produk.
Karena itu, harga supplier yang menarik belum cukup menjadi dasar untuk mengambil keputusan pengadaan.
Terlebih lagi, Indonesia memasuki fase regulasi halal yang semakin penting bagi produk makanan dan minuman impor.
AsiaCommerce membantu bisnis menangani proses tersebut dari sourcing, verifikasi supplier, negosiasi, quality control, koordinasi dokumen, impor, hingga logistik.
Dengan begitu, pebisnis dapat lebih fokus pada positioning, pemasaran, distribusi, dan pertumbuhan produk di Indonesia.
Mengapa Import Makanan China Menarik pada 2026?
China memiliki ekosistem manufaktur pangan yang mampu menghasilkan banyak variasi rasa, format kemasan, dan konsep produk.
Selain itu, produsen China relatif cepat merespons tren makanan yang berkembang melalui media sosial dan perdagangan digital.
Kondisi tersebut menciptakan pilihan luas bagi pebisnis Indonesia yang ingin mencari diferensiasi dalam kategori makanan impor.
Secara makro, hubungan perdagangan kedua negara juga terus menguat sepanjang 2026.
Kementerian Perdagangan mencatat China menyumbang 42,38 persen dari seluruh impor nonmigas Indonesia selama Januari–Juli 2026.
Nilainya mencapai US$58,29 miliar atau meningkat 22,45 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Namun demikian, besarnya perdagangan tersebut tidak berarti semua makanan asal China memiliki peluang pasar yang sama.
Konsumen Indonesia tetap mempertimbangkan rasa, harga, kemasan, keamanan, kehalalan, serta kemudahan mendapatkan produk.
Sementara itu, media sosial membuat tren makanan dapat meningkat sekaligus menghilang dalam waktu relatif singkat.
(BACA JUGA: 7 Produk Fashion China yang Potensial Dijual di Indonesia, Margin Reseller Masih Menarik?)
Produk yang menarik secara visual juga lebih mudah mendapatkan perhatian melalui mukbang, review, dan live commerce.
Karena itu, bisnis perlu melihat potensi produk bersama karakter target konsumen dan keberlanjutan permintaannya.
Selain pasar, kelayakan regulasi juga harus diperhatikan sebelum pengadaan bergerak lebih jauh.
AsiaCommerce membantu klien menghubungkan peluang tersebut dengan ekosistem manufaktur dan supplier di China.
Selanjutnya, tim dapat menangani sourcing, verifikasi, negosiasi, quality control, koordinasi dokumen, impor, serta kebutuhan logistik.
Dengan pendekatan terintegrasi, bisnis tidak perlu membangun sendiri proses pengadaan pangan lintas negara.
Sejak 2016, AsiaCommerce menjalankan layanan tersebut melalui PT Exim Jaya Abadi dan PT Kalimas Mitra Perkasa.
7 Produk Import Makanan China yang Punya Peluang
Tren pangan 2026 menunjukkan konsumen menyukai kombinasi rasa unik, kepraktisan, harga terjangkau, dan pengalaman mencoba sesuatu yang baru.
Pertama, snack pedas bercita rasa mala menarik karena profil rasanya kuat dan mudah dijadikan materi konten.
Kedua, jeli konjac dengan berbagai rasa mempunyai format praktis serta variasi produk yang luas.
Ketiga, snack gurih berbumbu khas China dapat menyasar konsumen yang menyukai pengalaman rasa berbeda.
Keempat, teh melati siap minum berpotensi mengikuti meningkatnya familiaritas konsumen terhadap minuman teh bergaya Asia.
Kelima, fruit tea kemasan menawarkan kombinasi rasa buah, kemudahan konsumsi, dan tampilan produk yang menarik.
Keenam, makanan instan self-heating mempunyai unsur novelty karena dapat disiapkan tanpa proses memasak konvensional.
Ketujuh, makanan instan bercita rasa khas China dapat menyasar konsumen muda yang gemar mencoba tren kuliner internasional.
Namun demikian, tujuh kategori tersebut bukan jaminan bahwa setiap produk otomatis layak diimpor.
Produk viral dapat menghadapi persaingan harga ketika terlalu banyak seller menawarkan barang serupa.
Selain itu, makanan mempunyai persoalan masa simpan, komposisi, keamanan, penyimpanan, dan regulasi yang harus diperhatikan.
Karena itu, pemilihan produk tidak sebaiknya hanya mengikuti jumlah penonton sebuah tren di media sosial.
AsiaCommerce membantu klien menyaring kebutuhan produk berdasarkan target pasar, karakter bisnis, dan kesiapan pengadaan.
Selanjutnya, tim dapat mencari serta memverifikasi supplier yang relevan tanpa mengharuskan klien menyeleksi banyak produsen sendiri.
Proses tersebut dapat dilanjutkan melalui negosiasi, quality control, koordinasi dokumen, impor, dan logistik.
Dengan begitu, pebisnis dapat fokus membangun merek dan penjualan daripada menangani seluruh proses sourcing secara mandiri.
BPOM dan Halal Jadi Bagian Penting Import Makanan China
Regulasi menjadi faktor penting dalam import makanan China karena produk pangan berkaitan langsung dengan keamanan dan perlindungan konsumen.
(BACA JUGA: Import Alat Kesehatan dari China 2026: Peluang Besar, Tapi Apa Saja yang Perlu Diperhatikan?)
Selain persyaratan pangan, tahun 2026 juga menjadi periode penting dalam penerapan kewajiban sertifikasi halal di Indonesia.
BPJPH menerbitkan Peraturan Nomor 4 Tahun 2026 tentang pemastian kesesuaian produk halal luar negeri yang masuk ke Indonesia.
Aturan tersebut ditetapkan pada 7 Agustus dan diundangkan pada 10 Agustus 2026.
Selain itu, BPJPH menegaskan produk makanan dan minuman termasuk kategori wajib bersertifikat halal mulai 18 Oktober 2026.
Cakupan tersebut juga meliputi produk luar negeri atau impor sesuai tahapan yang ditetapkan pemerintah.
Sementara itu, pemasukan pangan olahan juga berkaitan dengan pengawasan BPOM dan dokumen sesuai ketentuan yang berlaku.
Karena itu, bisnis tidak sebaiknya melakukan transaksi dengan supplier sebelum memahami kelayakan produk untuk pasar Indonesia.
Komposisi, label, keamanan pangan, masa simpan, serta dokumen dari produsen dapat menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Namun demikian, artikel ini tidak dimaksudkan untuk mengajarkan pebisnis mengurus seluruh persyaratan tersebut sendiri.
AsiaCommerce membantu klien mengidentifikasi kebutuhan pengadaan dan mengoordinasikan proses dengan persyaratan yang relevan.
Selanjutnya, tim dapat berkomunikasi dengan supplier mengenai produk, spesifikasi, kualitas, serta kebutuhan dokumen sejak tahap awal.
Pendekatan tersebut membantu mengurangi risiko ketika barang sudah diproduksi tetapi ternyata menghadapi kendala untuk masuk atau dipasarkan.
Selain itu, koordinasi pengadaan, impor, dan logistik dalam satu alur membuat proses lebih terstruktur.
Berdasarkan pengalaman AsiaCommerce, pemeriksaan lebih awal membantu bisnis mengantisipasi risiko sebelum membuat komitmen pengadaan lebih besar.
Dari Produk Viral Menjadi Bisnis yang Lebih Berkelanjutan
Media sosial telah mengubah cara konsumen Indonesia menemukan makanan baru dari luar negeri.
Selain itu, live commerce memungkinkan konsumen melihat rasa, tekstur, kemasan, dan reaksi kreator sebelum memutuskan membeli.
Format tersebut sangat relevan untuk makanan unik yang membutuhkan demonstrasi agar manfaat atau pengalamannya mudah dipahami.
Sementara itu, konsumen juga semakin sensitif terhadap harga ketika ingin mencoba produk yang belum familiar.
Kemasan kecil dapat mengurangi hambatan pembelian karena konsumen tidak harus mengeluarkan biaya besar untuk mencoba rasa baru.
Namun demikian, viralitas tidak selalu menghasilkan bisnis yang berkelanjutan.
Tren dapat turun cepat, sedangkan stok makanan memiliki masa simpan dan kebutuhan penyimpanan tertentu.
Selain itu, kompetitor dapat masuk ketika sebuah produk mulai mendapatkan perhatian besar di marketplace.
Karena itu, pengadaan sebaiknya tidak hanya didasarkan pada produk yang sedang ramai dibicarakan.
Bisnis perlu mempertimbangkan positioning, target konsumen, kualitas, ketersediaan stok, serta konsistensi supplier.
(BACA JUGA: Private-Label Skincare From China: What Global Buyers Must Verify Before Production)
Di sinilah proses pengadaan dari China menjadi bagian penting dari strategi bisnis.
AsiaCommerce membantu menangani pencarian produk dan supplier berdasarkan kebutuhan klien, bukan sekadar mengikuti katalog populer.
Selanjutnya, proses dapat mencakup verifikasi supplier, negosiasi, quality control, koordinasi dokumen, impor, dan kebutuhan logistik.
Dengan begitu, bisnis tidak perlu menghubungkan berbagai pihak secara terpisah untuk membawa produk menuju pasar Indonesia.
Selain itu, tim internal dapat lebih fokus pada branding, konten, live commerce, marketplace, dan strategi distribusi.
Pendekatan all-in tersebut membantu mengubah peluang produk viral menjadi proses pengadaan yang lebih terstruktur.
Sejak 2016, AsiaCommerce mendampingi kebutuhan pengadaan lintas negara melalui PT Exim Jaya Abadi dan PT Kalimas Mitra Perkasa.
Ingin konsultasi langsung soal import makanan China untuk bisnis Anda?
AsiaCommerce: Solusi Pengadaan Global dan Distribusi Asia Tenggara Anti Ribet & Dijamin Aman

0 Comments