Penulis: Tim Editorial AsiaCommerce | Global Sourcing & International Business Consultant
Dipublikasikan: 20 Agustus 2026
Terakhir diperbarui: 20 Agustus 2026
ASIACOMMERCE – Import elektronik dari China masih menawarkan peluang besar bagi pebisnis Indonesia karena China tetap menjadi sumber utama impor dan mesin serta perangkat elektrik termasuk kelompok barang penting dari negara tersebut.
Berdasarkan data BPS, nilai impor Indonesia pada Januari 2026 mencapai US$21,20 miliar atau tumbuh 18,21 persen dibanding Januari 2025.
Pada periode yang sama, China menjadi negara asal utama impor nonmigas Indonesia dengan nilai sekitar US$7,89 miliar atau 43,75 persen.
BPS juga mencatat impor dari China terutama berupa mesin dan perlengkapan elektrik, mesin dan peralatan mekanis, serta plastik dan barang dari plastik.
Bahkan, hingga Mei 2026, China masih mendominasi sumber impor Indonesia dengan nilai US$8,49 miliar atau 34,23 persen dari total impor bulan tersebut.
Angka tersebut menunjukkan bahwa hubungan rantai pasok Indonesia dan China masih sangat kuat hingga pertengahan 2026.
Namun, peluang tersebut tidak berarti setiap produk elektronik otomatis menguntungkan untuk diimpor.
Pebisnis tetap perlu melihat tren pasar, regulasi, kualitas supplier, serta kemampuan produk menghasilkan margin yang sehat.
Import Elektronik dari China Masih Menarik karena Permintaannya Bergerak ke Produk Pintar
Import elektronik dari China menjadi semakin menarik ketika tren konsumen bergerak dari perangkat biasa menuju produk yang lebih pintar, hemat energi, dan saling terhubung.
Perubahan tersebut terlihat dari semakin kuatnya konsep smart home yang menghubungkan perangkat seperti lampu, kamera, televisi, dan pendingin ruangan dalam satu ekosistem.
Pada 2026, produsen elektronik juga semakin aktif membawa fitur AI ke televisi, perangkat rumah tangga, dan ekosistem smart living di Indonesia.
Selain itu, laporan Euromonitor menunjukkan penjualan elektronik konsumen di Indonesia pada 2025 diperkirakan tumbuh, dengan wearable, headphone wireless, dan perangkat pintar menjadi kategori yang menarik perhatian.
Kondisi ini membuka ruang bagi pebisnis untuk mencari produk yang menawarkan fungsi lebih spesifik dibandingkan elektronik konvensional.
Televisi pintar, AC inverter, dan mesin cuci juga tetap menjadi kategori penting dalam penjualan elektronik rumah tangga.
Namun, peluang terbesar bagi pebisnis tidak selalu berada pada produk yang paling populer.
(BACA JUGA: Cara Ekspansi Brand Kosmetik Lokal ke Filipina Tahun 2026)
Produk dengan fungsi spesifik dapat memiliki ruang diferensiasi yang lebih besar apabila dipadukan dengan branding, fitur, dan strategi distribusi yang tepat.
Karena itu, proses import elektronik dari China sebaiknya dimulai dari riset kebutuhan pasar sebelum mencari supplier.
Pebisnis perlu mengetahui siapa target konsumennya, masalah apa yang ingin diselesaikan, dan fitur apa yang benar-benar memiliki nilai jual.
Strategi tersebut membuat keputusan sourcing lebih terarah dan mengurangi risiko membeli produk yang hanya terlihat menarik di katalog supplier.
Peluang Import Elektronik dari China Ada di Smart Home, Wearable, dan Wireless
Salah satu area yang menarik untuk import elektronik dari China adalah smart home dan smart living.
Perangkat seperti kamera keamanan berbasis AI, lampu pintar, smart lock, dan berbagai sensor rumah menawarkan peluang karena konsumen semakin terbiasa dengan perangkat yang terhubung melalui internet.
Telkom juga mencatat bahwa IoT, AI, dan konektivitas internet mendorong perkembangan smart home di Indonesia.
Peluang berikutnya datang dari wearable seperti smartwatch dan fitness tracker yang menggabungkan fungsi komunikasi dengan pemantauan kesehatan dan aktivitas.
Sementara itu, perangkat wireless seperti TWS, wireless charger, serta aksesori pendukung ekosistem perangkat pintar juga memiliki ruang pasar yang menarik.
IEAE 2026 bahkan menempatkan AI, smart living, smart wearables, smart home, serta gadget dan aksesori sebagai fokus utama dalam pameran elektronik di Indonesia.
Namun, tren tidak boleh menjadi satu-satunya dasar keputusan pembelian.
Pebisnis perlu menghitung harga supplier, MOQ, biaya logistik, biaya kepatuhan, potensi retur, serta harga jual yang realistis.
Selain itu, kualitas produk harus diperiksa sebelum produksi atau pengiriman dalam jumlah besar.
Bagi brand yang ingin membangun produk sendiri, peluang OEM juga dapat dipertimbangkan untuk menciptakan diferensiasi.
Melalui sourcing dari China, bisnis dapat mencari supplier dengan kemampuan produksi, desain, dan spesifikasi yang lebih sesuai dengan positioning produk.
Di sinilah proses verifikasi supplier dan quality control menjadi penting agar peluang pasar tidak berubah menjadi beban operasional.
(BACA JUGA: 5 Syarat Wajib Import Bahan Baku F&B dari China Tahun 2026)
Regulasi Import Elektronik dari China Tidak Boleh Diabaikan
Peluang import elektronik dari China tetap harus berjalan bersama pemenuhan regulasi karena tidak semua perangkat dapat langsung masuk dan beredar di Indonesia.
Untuk alat atau perangkat telekomunikasi yang dibuat, dirakit, atau dimasukkan untuk diperdagangkan atau digunakan di Indonesia, Permenkominfo Nomor 3 Tahun 2024 mewajibkan pemenuhan standar teknis.
Ketentuan tersebut juga mencakup perangkat lain yang memiliki fitur telekomunikasi, sehingga produk wireless perlu diperiksa sejak tahap awal sourcing.
Artinya, produk seperti router, perangkat Wi-Fi, Bluetooth, TWS, dan perangkat wireless lainnya perlu mendapat perhatian khusus sebelum dipesan.
Selain SDPPI atau proses sertifikasi perangkat telekomunikasi, produk tertentu juga dapat masuk dalam kewajiban K3L.
Kemendag menjelaskan bahwa terdapat 22 barang listrik dan elektronika dalam kelompok barang terkait K3L yang wajib memiliki Nomor Registrasi Barang K3L.
Kewajiban tersebut berlaku untuk produk dalam negeri maupun produk asal impor, dan registrasi harus diajukan sebelum barang beredar di pasar.
Karena itu, pebisnis tidak sebaiknya menentukan produk hanya berdasarkan katalog supplier.
Pengecekan HS Code, jenis produk, spesifikasi teknis, dan kewajiban sertifikasi perlu dilakukan sebelum transaksi.
Untuk produk yang masuk kategori SNI wajib, persyaratan tersebut juga perlu dimasukkan ke dalam perencanaan pengadaan.
Dengan pendekatan tersebut, biaya kepatuhan dapat dihitung sejak awal dan risiko hambatan setelah barang tiba dapat ditekan.
Cara Membuat Import Elektronik dari China Lebih Menguntungkan
Keberhasilan import elektronik dari China pada akhirnya bergantung pada bagaimana pebisnis mengelola seluruh rantai pasok.
Langkah pertama adalah memilih produk berdasarkan permintaan pasar, bukan hanya karena harga supplier terlihat murah.
Selanjutnya, lakukan verifikasi terhadap supplier dan pastikan kemampuan produksinya sesuai dengan target bisnis.
Sampel juga perlu diperiksa sebelum melakukan pemesanan massal agar kualitas produk dapat dibandingkan dengan spesifikasi yang disepakati.
Untuk produk dengan fungsi wireless atau telekomunikasi, aspek regulasi harus diperiksa sebelum produksi maupun pengiriman.
Perhitungan biaya juga perlu memasukkan harga barang, logistik, kepatuhan, pajak, dan distribusi agar margin bisnis tidak terlihat terlalu tinggi di atas kertas.
Bagi bisnis yang ingin membangun merek sendiri, OEM dapat menjadi strategi untuk menciptakan produk yang lebih sulit dibandingkan sekadar menjual barang generik.
AsiaCommerce membantu proses sourcing dari China mulai dari pencarian supplier, verifikasi, negosiasi, hingga quality control.
Melalui pengalaman operasional sejak 2016, PT Exim Jaya Abadi dan PT Kalimas Mitra Perkasa mendukung kebutuhan pengadaan produk bagi pebisnis Indonesia.
(BACA JUGA: The Marketplace Ranking Algorithm Trick Most Foreign Sellers Never Discover)
Selain sourcing, AsiaCommerce juga membantu ekspansi pasar ke Indonesia, Malaysia, dan Filipina melalui dukungan distribusi e-commerce.
Dengan begitu, produk elektronik yang berasal dari China tidak berhenti pada proses impor, tetapi dapat dikembangkan menjadi bagian dari strategi pertumbuhan pasar Asia Tenggara.
Kesimpulan
Import elektronik dari China masih menjanjikan karena China tetap menjadi sumber impor utama Indonesia dan mesin serta perlengkapan elektrik termasuk kelompok barang yang dominan dari negara tersebut.
Tren smart home, wearable, AI, dan perangkat wireless juga membuka ruang bagi pebisnis untuk mencari kategori produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Namun, peluang tersebut harus diikuti pemilihan supplier yang tepat, quality control, perhitungan biaya, dan kepatuhan terhadap regulasi seperti sertifikasi telekomunikasi dan K3L.
Jika Anda sedang mencari supplier elektronik China atau ingin mengembangkan produk elektronik dengan skema OEM, AsiaCommerce dapat membantu proses sourcing hingga pengadaan.
Hubungi WhatsApp Admin AsiaCommerce: +62 877-7704-7097 (*)
AsiaCommerce: Solusi Pengadaan Global dan Distribusi Asia Tenggara Anti Ribet & Dijamin Aman


0 Comments