Import Kosmetik dari China Makin Dilirik: Syarat dan Peluang Bisnis 2026

by | Sep 1, 2026 | Impor, Product Sourcing

Penulis: Tim Riset Sourcing AsiaCommerce
Peran: Spesialis Sourcing Kosmetik & Regulasi Impor, AsiaCommerce
Tanggal Publish: 1 September 2026

ASIACOMMERCE – Kosmetik dari China semakin menarik perhatian pebisnis Indonesia ketika pasar kecantikan nasional terus bertumbuh pada 2026.

Pasar kosmetik Indonesia diproyeksikan mencapai lebih dari US$10 miliar atau sekitar Rp173 triliun sepanjang tahun ini.

Ketua Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia, Sancoyo, menyebut pasar tersebut diperkirakan “akan mencapai lebih dari US$10 miliar (Rp173 triliun)”.

Selain itu, pertumbuhan pasar berjalan bersama perubahan besar pada regulasi, perilaku konsumen, dan persaingan produk impor.

Data 2025 menunjukkan impor kosmetik dan personal care berkode HS 3303–3307 mencapai sekitar US$450–500 juta pada semester pertama.

Jika tren tersebut berlanjut, nilainya berpotensi kembali mendekati US$950 juta hingga US$1 miliar dalam setahun penuh.

Namun demikian, besarnya peluang tidak berarti setiap produk impor dapat langsung dipasarkan tanpa persiapan.

BPOM menemukan lebih dari 2,1 juta pieces kosmetik tidak memenuhi ketentuan senilai sekitar Rp35,8 miliar pada 2026.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa legalitas, keamanan, formula, dan dokumen harus menjadi bagian utama keputusan sourcing.

AsiaCommerce telah mendampingi kebutuhan sourcing lintas negara sejak 2016 melalui PT Exim Jaya Abadi dan PT Kalimas Mitra Perkasa.

Mengapa Kosmetik dari China Makin Menarik pada 2026?

Pasar kosmetik Indonesia memasuki 2026 dengan pertumbuhan kuat, persaingan ketat, dan perubahan perilaku konsumen yang semakin digital.

(BACA JUGA: Cross Border E-Commerce: Cara Baru Brand Indonesia Menjangkau Pasar ASEAN)

Nilai pasar kosmetik nasional diproyeksikan melampaui US$10 miliar atau sekitar Rp173 triliun pada 2026.

Proyeksi tersebut menunjukkan ruang bisnis besar bagi brand, reseller, dan pelaku usaha.

Selain itu, produk impor kembali mengambil peran penting setelah perdagangan kosmetik sempat menghadapi berbagai pembatasan.

Data sebelumnya menunjukkan impor kosmetik dan personal care HS 3303–3307 mencapai sekitar US$450–500 juta pada semester pertama 2025.

Jika tren tersebut bertahan, nilai setahun penuh dapat kembali mendekati kisaran US$950 juta sampai US$1 miliar.

Namun demikian, peluang kosmetik dari China tidak cukup dinilai dari harga pabrik dan tren produk saja.

Pebisnis harus memperhitungkan notifikasi BPOM, bahan kosmetik, dokumen legal, label, halal, serta kesiapan supplier.

Selain itu, konsumen Indonesia semakin cepat membandingkan harga, formula, ulasan, dan reputasi brand melalui marketplace.

Sebaliknya, produk dengan formula jelas, desain kuat, positioning tepat, dan kepatuhan regulasi memiliki fondasi lebih sehat.

Tren C-Beauty juga menunjukkan bahwa produsen China tidak lagi hanya bermain pada segmen harga terendah.

Di sisi lain, agresivitas pasar juga meningkatkan risiko produk ilegal atau tidak memenuhi ketentuan.

BPOM menemukan lebih dari 2,1 juta pieces kosmetik tidak memenuhi ketentuan senilai sekitar Rp35,8 miliar pada 2026.

Temuan tersebut menegaskan bahwa legalitas dan keamanan harus menjadi bagian utama strategi sourcing.

Karena itu, peluang pasar besar sebaiknya dibaca bersama risiko regulasi yang juga semakin tinggi.

Pebisnis perlu menguji potensi produk sebelum memesan volume besar hanya karena produk sedang viral.

Riset kompetitor, target harga, margin, formula, dan kebutuhan izin sebaiknya dilakukan sejak tahap awal.

Berdasarkan pengalaman AsiaCommerce, keputusan sourcing terstruktur membantu mengurangi risiko salah produk dan salah supplier.

Pendekatan ini membuat importir lebih siap memanfaatkan pertumbuhan pasar tanpa mengorbankan kepatuhan dan keberlanjutan bisnis.

8 Produk Kosmetik dari China yang Potensial untuk Pasar Indonesia

Tren C-Beauty memberi gambaran mengenai jenis produk, komunikasi, dan strategi yang sedang menarik perhatian konsumen Indonesia.

Pertama, skincare dengan fokus skin barrier tetap relevan karena konsumen semakin memahami fungsi ceramide dan bahan pendukung hidrasi.

Moisturizer barrier repair dapat menjadi kategori menarik selama formula, klaim, dan target konsumennya jelas.

Kedua, brightening serum tetap mempunyai permintaan tinggi karena kebutuhan mencerahkan masih kuat di pasar lokal.

Namun demikian, pemilihan bahan aktif harus mengikuti batas penggunaan dan persyaratan teknis yang berlaku.

Ketiga, sunscreen menawarkan kebutuhan pemakaian berulang sehingga berpotensi menghasilkan repeat purchase yang baik.

Selain itu, konsumen kini mempertimbangkan tekstur ringan, kenyamanan, white cast, dan kompatibilitas dengan makeup.

Keempat, lip tint masih menarik karena mudah dipasarkan melalui konten visual dan memiliki banyak pilihan warna.

Kelima, cushion menjadi kategori potensial karena menggabungkan fungsi complexion, kemudahan aplikasi, dan desain kemasan premium.

Keenam, produk acne care memiliki pasar luas, tetapi klaimnya perlu dirancang secara hati-hati agar tidak menyesatkan.

Ketujuh, facial cleanser dengan positioning lembut dapat menyasar konsumen yang semakin sadar terhadap kesehatan skin barrier.

Kedelapan, body care berbahan aktif membuka peluang melalui produk seperti body serum dan lotion dengan manfaat spesifik.

Namun, delapan kategori tersebut bukan daftar produk yang otomatis laris setelah diimpor.

(BACA JUGA: Cara Sourcing Baby Product Berkualitas dari Pabrik China)

Pebisnis tetap perlu melihat kepadatan kompetitor, harga rata-rata, rating, volume ulasan, dan biaya promosi.

Formula juga harus dibandingkan dengan dokumen bahan dan spesifikasi yang diberikan supplier.

Di sisi lain, desain kemasan yang menarik dapat meningkatkan perhatian tetapi tidak boleh menutupi kelemahan kualitas produk.

Strategi private label dapat membantu membangun diferensiasi dibandingkan menjual produk generik yang sama dengan banyak toko.

Karena itu, pemilihan produk harus menggabungkan tren konsumen, kesiapan regulasi, dan ruang margin yang realistis.

AsiaCommerce membantu klien membandingkan produk serta supplier sebelum keputusan pengadaan dilakukan dalam volume yang lebih besar.

Regulasi Kosmetik dari China yang Wajib Dipahami Importir

Import kosmetik China memiliki jalur regulasi yang harus diperiksa sebelum produk dipasarkan secara resmi di Indonesia.

BPOM memperbarui kerangka sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik melalui PerBPOM Nomor 8 Tahun 2026.

Peraturan tersebut berlaku sejak 29 April 2026 dan mencabut PerBPOM Nomor 33 Tahun 2021.

Namun demikian, CPKB terutama berkaitan dengan fasilitas produksi dan perlu dibaca sesuai model bisnis serta rantai produksinya.

Selain itu, PerBPOM Nomor 25 Tahun 2025 mengatur persyaratan teknis bahan kosmetik dan saat ini berstatus berlaku.

Aturan tersebut menggantikan ketentuan sebelumnya mengenai persyaratan teknis bahan kosmetika.

Karena itu, importir perlu memeriksa komposisi, batas bahan, pewarna, pengawet, serta persyaratan lain sebelum menentukan produk.

Dokumen formula dari supplier harus konsisten dengan produk yang akan diproduksi dan didaftarkan.

Selanjutnya, kosmetik yang diedarkan di Indonesia membutuhkan pemenuhan ketentuan notifikasi dan penandaan sesuai regulasi terkait.

Nama produk, klaim, komposisi, kemasan, serta pihak yang bertanggung jawab tidak boleh diperlakukan sebagai detail terakhir.

Klaim berlebihan juga dapat meningkatkan risiko ketika manfaat yang disampaikan tidak memiliki dukungan yang memadai.

Di sisi lain, kewajiban halal menjadi agenda penting bagi bisnis kosmetik pada 2026.

BPJPH menegaskan bahwa produk kosmetik wajib bersertifikat halal setelah 17 Oktober 2026 sesuai tahapan regulasi yang berlaku.

Oleh karena itu, strategi sourcing sebaiknya mempertimbangkan dokumen bahan dan rantai pasok yang mendukung proses halal.

Pebisnis juga harus mengecek apakah supplier mampu memberikan dokumen yang dibutuhkan konsisten.

Supplier dengan harga murah tetapi dokumentasi lemah dapat menciptakan biaya tambahan dan keterlambatan.

Selain itu, perubahan formula setelah sampel disetujui dapat mengganggu proses registrasi dan konsistensi produk.

Karena itu, spesifikasi dan formula final sebaiknya dikunci sebelum produksi massal dimulai.

Berdasarkan pengalaman AsiaCommerce, pemeriksaan dokumen sejak awal membantu mengurangi masalah saat proses pengadaan berjalan.

AsiaCommerce membantu menghubungkan kebutuhan sourcing dengan kesiapan dokumen agar produk lebih siap memasuki pasar Indonesia.

Cara Memilih Supplier Kosmetik China yang Lebih Terpercaya

Supplier kosmetik tidak sebaiknya dipilih hanya berdasarkan harga, foto produk, atau jumlah transaksi pada platform B2B.

Langkah pertama adalah memastikan identitas perusahaan dan memahami apakah pemasok merupakan pabrik, trading company, atau perantara.

Selanjutnya, periksa kemampuan produksi untuk kategori kosmetik yang benar-benar ingin Anda kembangkan.

Supplier yang kuat pada lip product belum tentu memiliki kemampuan setara untuk skincare berbahan aktif.

Selain itu, mintalah dokumen perusahaan, spesifikasi produk, komposisi, sertifikat terkait, dan informasi fasilitas produksi.

Informasi tersebut membantu menilai kesiapan supplier menghadapi kebutuhan registrasi dan pemeriksaan produk.

Tahap berikutnya adalah memesan sampel untuk mengevaluasi tekstur, aroma, warna, kemasan, stabilitas awal, dan pengalaman penggunaan.

Namun demikian, penilaian sampel tidak boleh berhenti pada tampilan yang menarik.

(BACA JUGA: How Global Cosmetics Brands Win on Shopee, Lazada, and TikTok Shop in Southeast Asia)

Pebisnis juga perlu memastikan formula sampel sama dengan formula yang ditawarkan untuk produksi massal.

Selanjutnya, bandingkan MOQ, harga unit, biaya kemasan, waktu produksi, pembayaran, dan kebijakan terhadap produk cacat.

Negosiasi sebaiknya menggunakan spesifikasi yang sama agar perbandingan antar-supplier tetap objektif.

Di sisi lain, private label memerlukan pembahasan tambahan mengenai desain, merek, cetakan kemasan, dan kepemilikan materi kreatif.

Jangan melakukan pembayaran besar sebelum identitas penerima dan kesesuaian perusahaan diperiksa secara memadai.

Selain itu, hitung landed cost sebelum menentukan harga jual produk di Indonesia.

Perhitungan tersebut dapat mencakup barang, kemasan, inspeksi, logistik, pajak, registrasi, sertifikasi, dan biaya operasional lain.

Dengan begitu, harga pabrik yang murah tidak menyesatkan keputusan bisnis.

Pebisnis juga perlu menguji apakah margin masih sehat setelah biaya marketplace dan promosi dimasukkan.

Berdasarkan pengalaman AsiaCommerce, supplier yang responsif terhadap pertanyaan teknis biasanya lebih mudah dikelola selama proses pengadaan.

Tim kami membantu pencarian supplier, komunikasi, negosiasi, verifikasi, dan koordinasi impor sesuai kebutuhan setiap klien.

AsiaCommerce menjalankan layanan tersebut melalui PT Exim Jaya Abadi dan PT Kalimas Mitra Perkasa sejak 2016.

Ingin konsultasi langsung soal kosmetik dari China untuk bisnis Anda?

Hubungi tim AsiaCommerce lewat WhatsApp di +62 877-7704-7097 untuk mendapatkan pendampingan sourcing dan impor kosmetik sesuai regulasi terbaru. (*)

AsiaCommerce: Solusi Pengadaan Global dan Distribusi Asia Tenggara Anti Ribet & Dijamin Aman

0 Comments