ASIACOMMERCE – Pemerintah resmi menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 38 Tahun 2026 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional sebagai langkah memperkuat ekosistem bisnis sekaligus mempercepat lahirnya lebih banyak wirausaha di Indonesia.
Bagi pelaku usaha, regulasi ini bukan sekadar aturan baru.
Perpres tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin menciptakan iklim usaha yang lebih terintegrasi.
Tujuannya bukan hanya menambah jumlah pelaku usaha.
Pemerintah juga ingin meningkatkan kualitas bisnis agar mampu tumbuh lebih cepat dan lebih kompetitif.
Bagi brand owner, importir, distributor, manufaktur, maupun UMKM yang ingin naik kelas, kebijakan ini membuka berbagai peluang baru yang layak dimanfaatkan.
Mengapa Perpres Ini Diterbitkan?
Perpres Nomor 38 Tahun 2026 diterbitkan sebagai bagian dari implementasi RPJPN 2025–2045 dan RPJMN.
Pemerintah ingin meningkatkan rasio kewirausahaan nasional secara lebih terarah.
Dalam regulasi tersebut disebutkan bahwa:
“Pengembangan kewirausahaan nasional dilaksanakan untuk mempercepat peningkatan rasio kewirausahaan.”
Artinya, pemerintah tidak lagi hanya berfokus pada jumlah UMKM.
Fokus berikutnya ialah membangun bisnis yang mampu bertahan, berkembang, dan memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian nasional.
Ekosistem Bisnis Akan Dibangun Lebih Terintegrasi
Salah satu perubahan penting dalam Perpres ini ialah pendekatan yang lebih terintegrasi.
Pemerintah akan menyusun Dokumen Pengembangan Kewirausahaan Nasional.
Selain itu, akan disusun Rencana Aksi Pengembangan Kewirausahaan Nasional.
Pemerintah daerah juga akan memiliki rencana aksi masing-masing.
Pendekatan tersebut membuat program pengembangan usaha tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Koordinasi antarkementerian juga diharapkan menjadi lebih efektif.
Pelaku Usaha Akan Didampingi Sesuai Tahap Pertumbuhan
Perpres ini mengelompokkan pelaku usaha berdasarkan fase bisnis.
Tahapan tersebut dimulai dari calon wirausaha.
Kemudian berlanjut kepada wirausaha pemula.
(BACA JUGA: Kebijakan Impor Garam 2026, Apa yang Perlu Dipahami Pelaku Industri?)
Tahap berikutnya ialah wirausaha mapan.
Pendekatan tersebut penting karena kebutuhan setiap pelaku usaha berbeda.
Pebisnis yang baru memulai membutuhkan pendampingan berbeda dibanding perusahaan yang sudah berkembang.
Pemerintah Juga Fokus pada Wirausaha Tematik
Selain berdasarkan tahapan usaha, pemerintah juga memberikan perhatian kepada kelompok tertentu.
Program akan menyasar wirausaha sosial.
Wirausaha teknologi juga menjadi prioritas.
Selain itu, terdapat perhatian bagi perempuan, pemuda, desa, dan ekonomi kreatif.
Pendekatan tersebut diharapkan memperluas peluang lahirnya inovasi bisnis di berbagai sektor.
Komite Khusus Dibentuk Langsung di Bawah Presiden
Agar implementasi berjalan efektif, pemerintah membentuk Komite Pengembangan Kewirausahaan Nasional.
Dalam Perpres disebutkan:
“Komite Pengembangan Kewirausahaan Nasional berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.”
Langkah ini menunjukkan bahwa pengembangan kewirausahaan menjadi salah satu agenda strategis nasional.
Koordinasi lintas kementerian diharapkan menjadi lebih cepat.
Program juga berpotensi lebih konsisten.
Apa Peluang bagi Pebisnis dan Brand Owner?
Banyak pelaku usaha melihat Perpres ini hanya menguntungkan UMKM.
Padahal, dampaknya jauh lebih luas.
Ketika jumlah wirausaha meningkat, kebutuhan terhadap rantai pasok juga ikut bertambah.
Permintaan bahan baku akan meningkat.
Kebutuhan kemasan juga bertambah.
Begitu pula kebutuhan mesin produksi.
(BACA JUGA: Barantin Permudah Ekspor UMKM, Ini Peluang yang Tidak Boleh Dilewatkan)
Peralatan usaha juga akan semakin banyak dicari.
Bagi brand owner, kondisi tersebut membuka peluang memperluas kapasitas bisnis.
Bagi importir, kebutuhan sourcing dari luar negeri juga berpotensi meningkat.
Momentum Tepat Membangun Supply Chain yang Lebih Kuat
Pertumbuhan bisnis tidak hanya ditentukan oleh penjualan.
Supply chain yang kuat menjadi fondasi penting.
Banyak bisnis gagal berkembang bukan karena produknya buruk.
Masalah sering muncul pada pasokan barang.
Kualitas supplier juga sering menjadi tantangan.
Keterlambatan pengiriman dapat mengganggu operasional.
Karena itu, pelaku usaha sebaiknya mulai membangun rantai pasok yang lebih stabil sejak dini.
Jangan Hanya Menjadi Reseller
Perpres ini juga menjadi momentum untuk naik kelas.
Banyak pelaku usaha masih bergantung pada produk pihak lain.
Padahal, margin yang lebih besar biasanya diperoleh melalui kepemilikan merek sendiri.
Brand owner memiliki fleksibilitas lebih tinggi.
Mereka juga lebih mudah mengembangkan diferensiasi produk.
Bahkan, peluang ekspor biasanya lebih besar bagi bisnis yang memiliki identitas merek yang kuat.
Strategi Agar Bisnis Siap Bertumbuh
Perpres memberikan peluang.
Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan kesiapan bisnis.
Beberapa langkah yang dapat mulai dilakukan antara lain:
- Membangun merek yang memiliki nilai tambah.
- Menyiapkan legalitas usaha secara lengkap.
- Memastikan rantai pasok stabil.
- Menyeleksi supplier yang kredibel.
- Menjaga konsistensi kualitas produk.
- Memanfaatkan digitalisasi operasional.
- Mulai mempelajari peluang ekspor sejak awal.
Strategi tersebut akan membuat bisnis lebih siap memanfaatkan berbagai program pemerintah pada masa mendatang.
Mengapa Pengadaan Menjadi Faktor Penting?
Banyak pebisnis fokus pada pemasaran.
Padahal, pengadaan merupakan salah satu fondasi bisnis.
(BACA JUGA: What Makes Thailand Skincare Attractive to International Buyers?)
Harga pokok sangat dipengaruhi kualitas procurement.
Supplier yang tepat membantu menjaga margin keuntungan.
Risiko keterlambatan produksi juga dapat ditekan.
Karena itu, pengadaan tidak lagi sekadar aktivitas membeli barang.
Pengadaan merupakan strategi bisnis jangka panjang.
AsiaCommerce Siap Mendukung Pertumbuhan Bisnis Anda
Perpres Nomor 38 Tahun 2026 menjadi sinyal positif bagi dunia usaha karena menunjukkan komitmen pemerintah dalam membangun ekosistem kewirausahaan yang lebih kuat, terintegrasi, dan berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang.
Agar peluang tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal, pelaku usaha juga perlu memperkuat fondasi bisnisnya, mulai dari product sourcing, supplier verification, quality control, procurement, hingga pengelolaan impor secara legal dan efisien.
Di sinilah AsiaCommerce dapat menjadi mitra strategis bagi brand owner, distributor, manufaktur, maupun pelaku usaha yang ingin memperkuat rantai pasok sekaligus mempersiapkan ekspansi bisnis, baik untuk pasar domestik maupun internasional.
Semakin cepat bisnis memiliki rantai pasok yang kuat, semakin besar pula peluang untuk tumbuh, membangun merek yang berkelanjutan, dan memanfaatkan berbagai peluang yang lahir dari kebijakan pemerintah. (*)
AsiaCommerce: Solusi Pengadaan Global dan Distribusi Asia Tenggara Anti Ribet & Dijamin Aman



0 Comments