Penulis: Tim Riset Sourcing AsiaCommerce
Peran: Spesialis Ekspansi Pasar Asia Tenggara, AsiaCommerce
Tanggal Publish: 24 Agustus 2026
ASIACOMMERCE – Ekspansi bisnis F&B Filipina menawarkan potensi keuntungan besar berkat populasi muda dan kelas menengah yang terus bertambah.
Pemerintah Filipina turut memperkuat daya tarik investasinya melalui sejumlah insentif fiskal baru yang berlaku sejak 2026.
Sementara itu, beberapa brand F&B asal Indonesia telah membuktikan bahwa pasar Filipina sangat terbuka bagi produk dengan strategi lokalisasi tepat.
Berikut panduan lengkap mengapa ekspansi bisnis F&B Filipina layak dipertimbangkan sekarang, lengkap dengan langkah-langkah strategisnya.
AsiaCommerce, di bawah naungan PT Exim Jaya Abadi dan PT Kalimas Mitra Perkasa yang telah beroperasi sejak 2016, membantu brand menavigasi seluruh proses ekspansi ini secara legal.
Insentif Investasi Melalui CREATE MORE Act 2026
Pemerintah Filipina baru saja memperkuat daya tarik investasinya melalui CREATE MORE Act yang menyempurnakan undang-undang perpajakan sebelumnya.
Untuk sektor manufaktur dan processing makanan-minuman, insentif ini difokuskan pada efisiensi biaya produksi secara menyeluruh.
Perusahaan terdaftar dapat menikmati pemotongan tarif Pajak Penghasilan Badan menjadi 20 persen, turun dari tarif normal 25 persen.
Pemotongan ini berlaku di bawah rezim Enhanced Deductions Regime yang menjadi salah satu fitur utama undang-undang baru tersebut.
Selain itu, perusahaan juga berhak atas fasilitas Income Tax Holiday selama 4 hingga 7 tahun tergantung lokasi pabrik dan tingkat teknologi.
CREATE MORE turut menaikkan deduksi biaya listrik menjadi 100 persen, naik signifikan dari aturan sebelumnya yang hanya 50 persen.
Kenaikan ini bertujuan memangkas biaya operasional manufaktur yang selama ini terkenal mahal di Filipina.
Dari sisi pajak pertambahan nilai, pembelian lokal untuk bahan baku manufaktur berorientasi ekspor kini dikenakan tarif PPN 0 persen.
(BACA JUGA: 5 Syarat Wajib Import Bahan Baku F&B dari China Tahun 2026)
Impor mesin pengolahan makanan juga dibebaskan dari PPN operasional dengan aturan klaim yang kini jauh lebih dipermudah.
Kombinasi insentif ini menjadikan Filipina semakin kompetitif bagi brand F&B yang mempertimbangkan investasi manufaktur jangka panjang.
AsiaCommerce membantu klien mengevaluasi skema insentif mana yang paling sesuai dengan model bisnis dan skala investasi yang direncanakan.
Selain insentif fiskal, pemerintah Filipina turut menyederhanakan proses pendaftaran investasi melalui sistem digital yang lebih terintegrasi.
Penyederhanaan ini memangkas waktu pengurusan izin yang sebelumnya bisa memakan waktu berbulan-bulan menjadi hitungan minggu saja.
Bagi brand F&B skala menengah, kemudahan administrasi semacam ini sering kali sama pentingnya dengan besaran insentif pajak yang ditawarkan.
Perlu dicatat bahwa insentif ini umumnya ditujukan bagi investasi manufaktur atau processing, bukan sekadar aktivitas jual beli produk jadi.
Oleh karena itu, brand perlu mengevaluasi terlebih dahulu apakah model bisnisnya memenuhi kriteria untuk mengklaim insentif tersebut.
Bagi brand yang belum berencana membangun fasilitas manufaktur, jalur distribusi melalui kemitraan lokal tetap menjadi opsi awal yang realistis.
Proyeksi Pertumbuhan Pasar F&B Filipina yang Tangguh
Pasar konsumsi domestik Filipina berada dalam fase pertumbuhan yang sangat tangguh menuju tahun 2026.
Menurut laporan US Department of Agriculture terbaru, sektor manufaktur makanan dan minuman Filipina diproyeksikan tumbuh stabil sebesar 5 persen.
Pertumbuhan ini didorong oleh efisiensi logistik domestik yang terus membaik seiring investasi infrastruktur di negara tersebut.
Pasar retail pangan komprehensif diproyeksikan terus mendaki menuju angka puluhan miliar dolar AS dalam beberapa tahun ke depan.
Sementara itu, industri pelayanan makanan atau foodservice bangkit kuat dengan estimasi nilai mencapai USD 21,04 miliar.
Pertumbuhan ini dipicu oleh belanja dari keluarga pekerja migran Filipina yang dikenal sebagai Overseas Filipino Workers.
Urbanisasi yang berlangsung cepat turut mendorong pergeseran selera anak muda ke arah makanan kemasan yang praktis.
Selain itu, tren kesehatan yang semakin populer di kalangan konsumen muda turut membentuk preferensi produk F&B yang diminati.
Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan momentum yang sangat mendukung bagi brand yang mempertimbangkan ekspansi bisnis F&B Filipina saat ini.
AsiaCommerce membantu brand membaca peluang pasar ini secara lebih terukur berdasarkan data pertumbuhan sektor terkini.
Pertumbuhan sebesar ini juga tidak lepas dari perubahan pola belanja masyarakat yang semakin nyaman bertransaksi lintas platform digital.
Konsumen Filipina kini tidak hanya membeli produk di toko fisik, melainkan juga aktif membandingkan pilihan lewat platform online sebelum memutuskan.
Perilaku ini menciptakan peluang bagi brand baru untuk masuk pasar tanpa harus bersaing head-to-head dengan pemain lama di satu kanal saja.
Selain itu, pertumbuhan konsisten selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa tren ini bukan sekadar lonjakan sementara pascapandemi.
Data pertumbuhan yang stabil justru mengindikasikan perubahan struktural dalam kebiasaan konsumsi masyarakat Filipina secara jangka panjang.
(BACA JUGA: Distribusi F&B ke Marketplace Malaysia dan Filipina Tanpa Ribet)
Bagi brand yang baru mempertimbangkan ekspansi, tren jangka panjang semacam ini jauh lebih meyakinkan dibanding lonjakan permintaan musiman semata.
Studi Kasus Sukses Brand F&B Indonesia di Filipina
Beberapa brand F&B asal Indonesia telah membuktikan bahwa pasar Filipina sangat terbuka bagi strategi lokalisasi yang tepat.
Tomoro Coffee melakukan ekspansi masif ke Filipina dengan komitmen investasi awal sebesar USD 10 juta.
Mereka sukses membuka gerai flagship di area kampus Manila, seperti Far Eastern University, menargetkan segmen mahasiswa dan pekerja muda.
Strategi ini mengedepankan konsep kopi berkualitas namun tetap ramah kantong bagi target pasar yang dituju.
J.CO Donuts & Coffee menjadi salah satu pelopor brand Indonesia yang legendaris keberadaannya di Filipina.
Kesuksesan mereka terletak pada pemosisian produk sebagai oleh-oleh premium atau pasalubong untuk keluarga.
Budaya pasalubong ini mirip dengan budaya mudik dan buah tangan yang sudah akrab bagi masyarakat Indonesia.
Alfamart menggunakan skema kemitraan lokal bersama SM Investments untuk mengoperasikan ribuan minimarket di luar area Metro Manila.
Model ini menyediakan akses cepat untuk produk camilan dan kebutuhan pokok harian masyarakat sub-urban Filipina.
Ketiga studi kasus ini menunjukkan bahwa kombinasi lokalisasi budaya dan kemitraan lokal mampu mempercepat penerimaan pasar.
AsiaCommerce membantu brand mereplikasi strategi lokalisasi serupa sesuai skala dan karakteristik produk F&B masing-masing.
Ketiga contoh ini juga menunjukkan bahwa jalur masuk pasar tidak harus seragam, karena setiap brand dapat memilih pendekatan sesuai kekuatannya.
Brand dengan modal besar dapat mempertimbangkan investasi gerai flagship seperti langkah yang diambil Tomoro Coffee di area kampus Manila.
Sementara brand dengan produk bernilai simbolis kuat dapat mengandalkan positioning budaya seperti strategi pasalubong yang diterapkan J.CO.
Bagi brand yang ingin menjangkau pasar sub-urban secara luas, model kemitraan minimarket seperti Alfamart bisa menjadi referensi yang relevan.
Pelajaran penting dari ketiga studi kasus ini adalah pentingnya memahami budaya konsumsi lokal sebelum menentukan strategi masuk pasar.
Kombinasi strategi semacam ini bisa disesuaikan secara bertahap tanpa harus meniru persis satu model tertentu.
Kemitraan Distributor Lokal dan Jaringan Ritel Modern
Untuk memasukkan produk ke rantai grosir atau ritel modern seperti 7-Eleven dan Puregold, brand harus melewati regulasi impor yang ketat.
Sebelum bernegosiasi dengan ritel modern, produk wajib didaftarkan oleh importir lokal ke Food and Drug Administration Filipina.
Pendaftaran ini mencakup pengurusan License to Operate sebagai importir atau distributor, serta Certificate of Product Registration untuk setiap jenis produk.
Produk susu, daging, atau tanaman olahan membutuhkan izin karantina tambahan dari Bureau of Animal Industry atau Bureau of Plant Industry.
Puregold berfokus pada volume besar untuk kelas menengah ke bawah serta grosir skala kecil seperti sari-sari stores.
Mereka menerapkan sistem pendaftaran vendor yang ketat dengan syarat kontinuitas stok yang tinggi bagi setiap pemasok.
Sementara itu, 7-Eleven Philippines berfokus pada kemasan siap saji tunggal dan ukuran kecil yang praktis dikonsumsi.
Pengajuan produk sebagai vendor dilakukan melalui platform pengadaan digital milik jaringan ritel tersebut.
Produk harus memiliki margin yang cukup untuk menutup biaya listing fee dan biaya promosi tahunan yang dibebankan.
Sebagian besar ritel modern juga mewajibkan distributor menggunakan Central Distribution Center mereka, bukan mengirim langsung ke toko individual.
(BACA JUGA: The Real Reason Some Brands Scale Across 3 Countries While Others Stay Stuck in One)
AsiaCommerce membantu klien menavigasi persyaratan FDA, karantina, hingga negosiasi dengan jaringan ritel modern di Filipina.
Dengan pendampingan yang tepat, ekspansi bisnis F&B Filipina dapat berjalan lebih efisien tanpa terhambat kerumitan administrasi.
Selain kepatuhan dokumen, brand juga perlu mempertimbangkan kesiapan rantai pasok agar mampu memenuhi syarat kontinuitas stok dari ritel modern.
Ketidakmampuan menjaga ketersediaan stok secara konsisten dapat menyebabkan produk dikeluarkan dari daftar vendor resmi ritel tersebut.
Oleh karena itu, perencanaan kapasitas produksi dan logistik sebaiknya dilakukan sebelum benar-benar menandatangani kontrak dengan jaringan ritel modern.
Jika Anda sedang mempertimbangkan ekspansi bisnis F&B Filipina, konsultasi sejak awal akan sangat membantu meminimalkan risiko.
Ingin konsultasi langsung soal ekspansi bisnis F&B Filipina untuk bisnis Anda?
AsiaCommerce: Solusi Pengadaan Global dan Distribusi Asia Tenggara Anti Ribet & Dijamin Aman


0 Comments